Penghapusan Ujian Nasional merupakan sebuah langkah awal pemerintah untuk memberikan hak pendidikan yang sama rata untuk seluruh anak di Indonesia. Tentu penghapusan ini membuat beberapa pihak merasa keberatan. Tetapi untuk para siswa berita penghapusan UN merupakan sebuah angin segar yang diimpikan setiap siswa. Momok UN sebagai sesuatu yang menyeramkan sudah turun temurun terjadi. Hal ini jelas beralasan.

 

Ujian Nasional pernah menjadi penentu apakah siswa akan lulus sekolah atau tidak. Lalu UN juga akan menjadi penentu sekolah mana yang bisa di daftarkan. Belum lagi Ujian Nasional membuat para siswa stress dan tertekan. Kebiasaan memberatkan belajar saat UN menjadikan siswa tidak memiliki semangat belajar yang alami berasal dari dirinya. Ia hanya belajar agar lulus UN. Hal ini terbukti saat tahun 2015 disaat UN tidak menjadi penentu kelulusan siswa, dilihat siswa menjadi enggan belajar untuk mempersiapkan UN.

 

Tentu penghapusan UN membuat beberapa pihak takut jika akhirnya siswa malah kehilangan semangat belajar sama sekali karena tidak ada lagi alasan untuk mereka belajar. Disinilah mindset yang perlu di ganti, karena sejatinya belajar adalah sifat alami manusia. Maka jika kita mengecilkan fungsi belajar hanya untuk melewati sebuah ujian,  selanjutnya saat ujian itu dihilangkan, kita merasa belajar tidak diperlukan lagi. Padahal belajar merupakan hal yang dapat dilakukan seumur hidup, tidak terikat akan sekolah, buku apalagi ujian.

 

Dengan mengubah mindset seperti itu kita yakin bahwa setiap pelajaran yang dipelajari di bangku sekolah akan bermanfaat bukan hanya sebagai jawaban di sebuah Ujian. Setelah menghapus UN kemendikbud menggantikannya dengan Asesmen Nasional yang meliputi Asesmen kompetensi minimum, survei karakter dan lingkungan yang akan dilakukan di tengah jenjang (kelas 5,8,dan 11). AN pun tidak berfungsi sebagai penentu kelulusan siswa. Sebelum melihat tujuan dari Asesmen Nasional ayo kita pahami dulu apa itu AN

 

Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu sekolah, madrasah dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Seperti yang disebutkan sebelumnya penilaian AN akan berdasarkan dari tiga instrumen yaitu, Asesmen Kompetensi Minimum(AKM), Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar. Untuk AKM akan diikuti oleh peserta didik di sekolah tersebut. Survei Karakter diikuti peserta didik dan guru dalam lingkup sekolah untuk mengukur sikap, kebiasaan dan nilai-nilai(values) sebagai hasil belajar non kognitif siswa. Terakhir ada Survei Lingkungan Belajar yang akan dilakukan oleh kepala satuan Pendidikan untuk mengukur kualitas pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran.

 

Terlihat bahwa AN bukan hanya mengetes aspek kognitif siswa namun juga non kognitif bahkan hingga melihat lingkungan belajar siswa. Asesmen Nasional dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan dirancang untuk menghasilkan informasi akurat guna memperbaiki kualitas belajar-mengajar yang nantinya akan meningkatkan hasil belajar siswa.

 

Tujuan Asesmen Nasional adalah untuk pengembangan kompetensi dan karakter murid. AN bukan sistem evaluasi untuk individu siswa karena evaluasi kompetensi peserta didik menjadi tanggung jawab guru dan sekolah. Diharapkan AN tidak menambah beban siswa karena tidak memiliki konsekuensi bagi siswa dan tidak menjadi syarat dalam penerimaan peserta didik baru.

 

Parents dapat mengartikan bahwa AN menjadi tolak ukur Kemendikbud dalam menilai sebuah substansi pendidikan, disaat nilai AN rendah berarti sekolah tersebut masih banyak harus membenahi diri, mungkin dalam pola belajar, keberagaman murid atau dari nilai-nilai yang dibangun dalam sekolah. Saat sekolah sudah mendapatkan AN yang tinggi maka akan terlihat memiliki lingkungan yang mendukung untuk proses pembelajaran siswa. AN menjadi ajang untuk melihat pemerataan pendidikan di Indonesia dan bagaimana cara untuk dapat memenuhi hak pendidikan setiap anak Indonesia.

 

 

Tentu perubahan bukan hal yang mudah, tetapi dalam setiap perubahan ada usaha untuk menjadi lebih baik. Percayakan bahwa pemerintah dan substansi pendidikan berusaha untuk memberikan perubahan terbaik. Parent dapat membantu perubahan dengan langkah kecil. Berikan pemahaman kepada anak jika belajar bukan hanya hal yang terdapat disekolah dan bukan untuk sekedar mendapatkan nilai. Maka nantinya Indonesia akan siap untuk memiliki penerus yang senantiasa belajar.

 

 

Sudah siapkah Parents menjadi agen perubahan?

 

 

Monicka
Parenting Enthusiast - Homeschooling KITA