Kebijakan Merdeka Belajar yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan Indonesia dilakukan dalam bentuk tahapan episode. Beberapa diantaranya perbaikanan sistem dana bos, kampus merdeka, dan guru penggerak. Dengan perubahaan yang dibawa pada episode merdeka belajar yang telak dilakukan, sampailah kita di episode ke-15, yang memberikan perubahan pada kurikulum secara menyeluruh, yaitu disebut KURIKULUM MERDEKA.
Perbaikan dan pembenahan sistem dalam lingkup pemerintahan telah dijalankan. Pememberdayaan kepala sekolah dan guru agar dapat melaksanakan perubahan di sekolah masing-masing juga sedang dilaksanakan. Sekarang kebijakan merdeka belajar telah menyentuh aplikasi dalam ruang kelas, melalui pembentukan Kurikulum Merdeka.
Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP), pengertian kurikulum merdeka belajar adalah suatu kurikulum pembelajaran yang mengacu pada pendekatan bakat dan minat. Kurikulum ini sebelumnya disebut sebagai Kurikulum Prototipe yang merupakan bentuk dari tindak evaluasi perbaikan Kurikulum 2013. Kurikulum Prototipe adalah bentuk sederhana dari Kurikulum 2013 dengan sistem pembelajaran berbasis pada proyek (Project-Based Learning).
Dimulai sejak tahun 2020 pada masa pandemi COVID-19, implementasi Kurikulum Prototipe ini telah diujicobakan pada setidaknya 2500 sekolah. hasilnya sekolah yang telah menerapkan kurikulum ini terbukti empat sampai lima bulan lebih maju dibanding sekolah lain yang menggunakan Kurikulum 2013. Melihat perubahan positif ini pemerintah berupaya lebih lanjut untuk mengembangkan kurikulum ini agar dapat mencetak generasi penerus yang lebih kompeten dalam berbagai bidang.
APA YANG BERBEDA DI KURIKULUM MERDEKA?
Kurikulum merdeka memiliki fleksibilitas dan keleluasaan yang tinggi. Hal ini berkaitan dengan pembuatan kurikulum yang akan melibatkan guru. Sekolah juga memiliki otonomi akan kurikulum yang di aplikasikan. Jadi pelaksaan kurikulum bisa sesuai dengan minat dan karakter di tiap sekolah. ini membuat Kurikulum Merdeka menjadi lebih relevan dan efektif digunakan.
Mempelajari hal yang esensial, jadi siswa belajar lebih sederhana namun mendalam. Ini lebih baik dibandingkan belajar banyak hal tapi mendakal dan hanya untuk formalitas saja. Dengan fokus belajar yang lebih mengerucut, diharapkan siswa dapat mengembangkan potensi yang dimiliki.
Guru tidak akan lagi menjadi pusat pembelajaran, ia akan ikut berdiskusi dengan siswa dan mematik cara berpikir kritis siswa. KKM tidak membelenggu guru. Kurikulum ini menghargai capaian belajar siswa. Jadi akan menurunkan kemungkinan “katrol nilai” yang dilakukan guru. Sehingga yang dicapai siswa akan sesuai dengan laporan pencapaiannya.
Yang menarik adalah tidak adanya pemaksaan bagi satuan pendidikan. Perubahan kurikulum ini bisa dilakukan bertahap sesuai dengan kesiapan sekolah. Sifatnya optional, bagi sekolah yang ingin melakukan transformasi maka dapat memilih kurikulum merdeka. Dengan bahasan secara umum seperti itu saja sudah dapat terlihat bahwa kurikulum ini berani melakukan perubahan sistem pendidikan di Indonesia.
Namun perlu digaris bawahi. Perubahan sistem bukanlah hal yang instan. Persiapan Kurikulum Merdeka masih membutuhkan waktu yang lama agar aplikasinya dapat stabil dan setara ditiap daerah. Belum lagi sumber daya manusia yang masih membutuhkan pembaharuan ilmu mengajar, agar terbentuknya perubahan pola belajar siswa. Tentunya hal ini membutuhkan waktu agar SDM siap dan berdaya.
Mungkin salah satu kekurangan terbesarnya adalah dukungan dari masyarakat. Kurikulum yang dikenal masyarakat adalah kurikulum saat para orang dewasa ini masih duduk di bangku sekolah. Berarti kurikulumnya sudah sangat jadul sekali. Biasanya orang akan protes jika melihat sesuatu yang mereka tidak familiar, karena menimbulkan rasa tak nyaman. Contohnya saja saat Kebijakan Merdeka Belajar Episode 1 menghapus UN, banyak protes dari orang tua yang bingung dengan perubahan yang dilakukan. Mereka gelisah akan test standarisasi yang hilang. Walaupun beberapa kelompok merasa sudah sepantasnya UN dihapuskan sejak lama. Proses membuat masyarakat familiar dengan perubahan ini menjadi tantangan terbesar pemerintah.
Jika Kurikulum Merdeka akan stabil tidak dalam waktu dekat, bagaimana dengan putra putri Parent yang sudah memasuki usia sekolah? Bukankah mereka juga memiliki hak untuk mendapatkan bentuk kurikulum terbaik di negeri ini?
Monicka
Parenting Enthusiast - Homechooling KITA
