Sistem sekolah di Indonesia yang dibawa oleh belanda pada masa penjajahan adalah bentuk sistem pendidikan Prusia. Sebuah sistem pendidikan yang “berani” melakukan perubahan atas kebiasaan belajar masyarakat pada jaman itu, yaitu sekitar 200 tahun lalu.
Sistem pendidikan Prusia pada jamannya mendobrak pemahaman masyarakat akan pendidikan. Saat itu sistem Prusia membentuk anak-anak menjadi pekerja pabrik, yang disiplin akan waktu, dapat bekerja maksimal dalam waktu yang telah ditentukan, memiliki kecepatan kerja yang sama, sampai memiliki pengetahuan yang sama. Pada jaman revolusi industri, itulah yang dibutuhkan. Orang-orang yang terlatih untuk bekerja di pabrik. Sehingga sistem pendidikan Prusia menjadi dambaan setiap negara, agar industri negara mereka dapat berkembang.
Seiring berkembangnya jaman, penemuan manusia akan mesin menggeser kebutuhan tenaga manusia tersebut. Sekarang bahkan pekerjaan pramuniaga bisa dikerjaan robot. Jika peluang pekerjaan sudah berubah drastis, apa sistem pendidikan sudah berubah juga?
Ingatkah parent saat masa sekolah dulu? Kurikulum apa yang sedang berlangsung saat parent duduk di bangku sekolah? Selama 12 tahun sekolah, kita bisa melihat perubahan kurikulum hampir setiap kali pergantian menteri pendidikan. Melihat belum merasakan, melihat di depan cover buku sekolah yang berisikan tulisan kurikulum apa yang berlangsung. Tapi perubahannya belum berasa. Ketika Kurikulum 2013 hadir, baru semua mulai merasakan perubahannya. Tapi seperti yang kita tahu bahwa banyak yang merasa K13 ini berat untuk para muridnya.
Sekarang di tahun 2022 muncul kurikulum merdeka belajar, yang bertahap melakukan perubahan terhadap bentuk dan sistem pendidikan di Indonesia. Lalu akankah perubahannya terasa? Akankah para murid merasa berat dengan kurikulum ini?
Di dunia yang perubahannya semakin cepat, sistem pendidikan Indonesia membutuhkan dobrakan sistem layaknya sistem pendidikan Prusia 200 tahun lalu. Namun sekarang yang dibutuhkan adalah mencetak generasi yang berpikir kritis, inovatif, berpikir orisinil, pemecah masalah, memiliki kecerdasan emosional, dan segala kecakapan sosial yang harus dibentuk. Bukan lagi perihal fakta pengetahuan, karena fakta pengetahuan dapat dicari dilayar handphone masing-masing. Kita sudah membutuhkan yang lebih dari pintar.
Akhirnya ada kesadaran bahwa pendidikan bukan hanya persoalan lembar ijazah yang digunakan untuk mencari kerja. Disaat semua siswa lulus mencari kerja, siapa yang akan menciptakan pekerjaan? Sudah saatnya dunia pendidikan merawat ide-ide dari para siswa agar kelak ide-ide itu yang menjadi batubata pembentuk lapangan kerja.
Kebijakan merdeka belajar kementerian pendidikan secara bertahap melawan stigma masyarakat tentang sekolahan. Mendobrak sistem-sistem tua yang sudah mengakar. Memberikan udara segar untuk siswa dan guru agar dapat bertumbuh bersama membentuk masyarakat yang selalu siap akan perubahan.
Ada beberapa episode perubahan yang sudah berlangsung dan tahapan selanjutnya yang akan dilaksanakan, mungkin ini pertama kalinya kita melihat kebijakan sistem pendidikan yang ‘berani’ mendobrak tatanan sistem prusia yang dibawa belanda. Ditambah penyuluhan yang secara masif dilakukan dan penyediaan fasilitas pemberdayaan untuk guru agar dapat mengikuti perubahan yang akan dilakukan. Tentunya dibutuhkan dukungan serta kepercayaan masyarakat akan proses perubahan ini.
Perubahaan kebijakan tidak pernah ada yg instan, dalam pengaplikasiannya proses perubahaan adalah proses paling krusial agar tercapai keberhasilan sistem yg baru. Mungkin beberapa tahun kedepan menjadi tahun terberat dalam melakukan perubahaan karena kita semua belum terbiasa dengan ini semua. Di tambah dalam dunia pendidikan, setiap elemen masyarakat akan merasakan perubahan yang ada. Kami percaya jika semua aspek saling bekerja sama dan mendukung. Kebijakan merdeka belajar akan menjadi sistem pendidikan terbaik yang dimiliki Indonesia.
Monicka
Parenting Enthusiast - Homeschooling KITA
